Popular Posts

masukan E-mail mu untuk berlannganan:

Delivered by FeedBurner

Selasa, 21 Desember 2010

sepatu sang raja

Sepatu sang raja

oleh Rumah Curhat pada 09 Desember 2010 jam 10:00

Seorang Maharaja akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya.

Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja.

Baru beberapa meter berjalan di luar istana, kakinya terluka karena terantuk batu.

Ia berpikir, "Ternyata jalan-jalan di negeriku ini jelek sekali. Aku harus memperbaikinya."

Maharaja lalu memanggil seluruh menteri istana.

Ia memerintahkan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negerinya dengan kulit sapi yang terbaik.

Segera saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan.

Mereka mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri.

Di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa itu,

datanglah seorang pertapa menghadap Maharaja. I

a berkata pada Maharaja,

"Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini,

padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan

hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja."

Konon sejak itulah dunia menemukan kulit pelapis telapak kaki yang kita sebut "Sandal".

Renungan :

Ada pelajaran yang berharga dari cerita itu.

Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup,

kadangkala kita harus mengubah cara pandang kita, hati kita dan diri kita sendiri,

dan bukan dengan jalan mengubah dunia itu.

Karena kita seringkali keliru dalam menafsirkan dunia.

Dunia dalam pikiran kita terkadang hanyalah suatu bentuk personal.

Dunia kita artikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri.

Tak ada orang lain yang terlibat di sana, sebab seringkali dalam pandangan kita,

dunia adalah bayangan diri kita sendiri.

Ya, memang jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu.

Manakah yang kita pilih,

melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita tak pernah merasakan sakit,

atau melapisi hati kita dengan kulit pelapis agar kita dapat bertahan melalui jalan-jalan itu?

Sumber : motivasi net


REPOSTING DARI TEMAN SAYA rumah curhat
Read More

kau tak kan pernah tau...

Kau tak akan pernah tau ...

oleh Rumah Curhat pada 09 Desember 2010 jam 11:28

Alkisah di suatu negeri burung, tinggallah bermacam-macam keluarga burung.

Mulai dari yang kecil hingga yang besar.

Mulai dari yang bersuara lembut hingga yang bersuara menggelegar.

Mereka tinggal di suatu pulau nun jauh di balik bukit pegunungan.

Sebenarnya selain jenis burung masih ada hewan lain yang hidup di sana.

Namun sesuai namanya negeri burung, yang berkuasa dari kelompok burung.

Semua jenis burung ganas, seperti, burung pemakan bangkai, burung Kondor, burung elang dan rajawali adalah

para penjaga yang bertugas melindungi dan menjaga keselamatan penghung negeri burung.

Burung-burung kecil bersuara merdu, bertugas sebagai penghibur.

Kicau mereka selalu terdengar sepanjang hari, selaras dengan desau angin dan gesekan daun.

Burung-burung berbulu warna warni, pemberi keindahan.

Mereka bertugas bekeliling negri melebarkan sayapnya, agar warna-warni bulunya terlihat semua penghuni. Keindahan warnanya menimbulkan kegembiraan.

Dan rasa gembira bisa menular bagai virus, sehingga semua penghuni merasa senang.

Pada suatu ketika, seekor induk elang tengah mengerami telur-telurnya.

Setiap pagi elang jantan datang membawa makanan untuk induk elang.

Akhirnya, di satu pagi musim dingin telur-telur mulai menetas.

Ada 3 anak elang yang nampak kuat berdiri.

Dua anak elang yang hanya mampu mengeluarkan kepalanya dari cangkang telur,

harus berakhir dalam paruh sang ayah.

Dengan tangkas, elang jantan mengoyak cangkang telur lalu mematuk-matuk calon anak yang tak jadi itu.

Perlahan-lahan sang induk memberikan potongan-potongan tubuh anaknya

ke dalam paruh mungil anak-anak elang yang kuat.

Kejam...? Ini hanya masalah kepraktisan.

Untuk apa terbang dan mencari makan jauh-jauh jika ada daging bangkai di dalam sarang.

Sebagai hewan, elang hanya mempunyai naluri dan akal tanpa nurani.

Inilah yang membedakan manusia dan hewan.

Waktu berjalan terus, hari berganti hari.

Anak-anak elang yang berbentuk jelek karena tak berbulu, kini mulai menampakkan keasliannya.

Bulu-bulu halus mulai menutupi daging di tubuh masing-masing.

Kaki kecil anak-anak elang sudah mampu berdiri tegak.

Walau kedua sayapnya belum tumbuh sempurna.

Induk elang dan elang jantan, bergantian menjaga sarang.

Memastikan tak ada ular yang mengincar anak-anak elang

dan memastikan anak-anak elang tak jatuh dari sarang yang berada di ketinggian pohon.

Suatu pagi, saat induk elang akan mencari makan dan bergantian dengan elang jantan menjaga sarang.

Salah seekor anak elang bertanya: "Kapankah aku bisa terbang seperti ayah dan ibu?"

Induk elang dan elang jantan tersenyum,

bertukar pandang lalu elang jantan berkata:

"Waktunya akan tiba, anakku.

Jadi sebelum waktu itu tiba, makanlah yang banyak dan pastikan tubuhmu sehat serta kuat."

Usai sang elang jantan berkata, induk elang merentangkan sayapnya lalu mengepakkan kuat-kuat.

Hanya dalam hitungan yang cepat, induk elang tampak menjauhi sarang.

Terlihat bagai sebilah papan berawarna coklat melayang di awan.

Anak-anak elang, masuk di bawah sayap elang jantan.

Mencari kehangatan kasih sang jantan.

Waktu berjalan terus, musim telah berganti dari musim dingin ke musim semi.

Seluruh permukaan pulau mulai menampakan warna-warni dedaunan.

Bahkan sinar mentari memberi sentuhan warna yang indah.

Anak-anak elang pun sudah semakin besar dan sayapnya mulai ditumbuhi bulu-bulu kasar.

Suatu ketika seeor anak elang berdiri di tepi sarang, ketika ada angin kencang,

kakinya tak kuat mencengkram tepi sarang sehingga ia meluncur ke bawah.

Induk elang langsung merentangkan sayapnya dan mendekati sang anak seraya berkata:

"Rentangkan dan kepakan sayapmu kuat-kuat!"

Tapi rasa takut dan panik menguasai si anak elang karenanya ia tak mendengar apa yang dikatakan ibunya.

Elang jantan menukik cepat dari jauh dan membiarkan sayapnya terentang

tepat sebelum si anak mendarat di tanah.

Sayap elang jantan menjadi alas pendaratan darurat si anak elang.

Si anak elang yang masih diliputi rasa panik dan takut tak mampu bergerak.

Tubuhnya bergetar hebat.

Induk elang, dengan kasih memeluk sang anak.

Menyelipkan di bawah sayapnya dan memberikan kehangatan.

Sesudah si anak tenang dan tak gemetar, induk elang dan elang jantan membawa si anak kembali ke sarang.

Peristiwa itu menimbulkan rasa trauma pada si anak elang.

Jangankan berlatih terbang dengan merentangkan dan mengepakkan sayap.

Berdiri di tepi sarang saja ia sangat takut.

Kedua saudaranya sudah mulai terbang dalam jarak pendek.

Hal pertama yang diajarkan induk dan elang dan elang jantan adalah berusaha agar tidak mendarat keras di dataran.

Lama berselang setelah melihat ke dua saudaranya berlatih,

si elang yang pernah jatuh bertanya pada ibunya:

"Adakah jaminan aku tidak akan jatuh lagi?"

"Selama aku dan ayahmu ada, kamilah jaminanmu!" jawab si induk elang dengan penuh kasih.

"Tapi aku takut!" ujar si anak.

"Kami tahu, karenanya kami tak memaksa." Jawab si induk elang lagi.

"Lalu apa yang harus kulakukan agar aku berani?" tanya si anak.

"Untuk berani, kamu harus menghilangkan rasa takut!"

"Bagaimana caranya?"

"Percayalah pada kami!" Ujar elang jantan yang tiba-tiba sudah berada di tepi sarang.

Si anak diam dan hanya memandang jauh ke tengah lautan.

Tiba-tiba si anak elang bertanya lagi.

"Menurut ibu dan ayah, apakah aku mampu terbang keseberang lautan?"

Dengan tenang si elang jantan berkata:

"Anakku, kalau kau tak pernah merentangkan dan mengepakkan sayapmu,

kami tidak pernah tahu, apakah kamu mampu atau tidak.

Karena yang tahu hanya dirimu sendiri!"

Lalu si induk elang menambahkan:

"Mulailah dari sekarang, karena langkah kecilmu akan menjadi awal perubahan hidupmu.

Semua perubahan di mulai dari langkah awal, anakku!"

Si anak elang diam tertegun, memandang takjub pada induk elang dan elang jantan.

Kini ia sadar, tak ada yang tahu kemampuan dirinya selain dirinya sendiri.

Kedua orang tuanya hanya memberikan jaminan mereka ada dan selalu ada, jika si anak memerlukan.

Didorong rasa bahagia akan cinta kasih orang tuanya, si elang kecil berjanji akan berlatih dan mencoba.

Ketika akhirnya ia menggantikan elang jantan menjadi pemimpin keselamatan para penghuni negeri burung,

maka tahulah ia,

bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah di mulai saat tekad terbangun untuk melangkah.

Sukses itu tak pernah ada kalau hanya sebatas tekad.

Tapi tekad itu harus diwujudan dengan tindakan nyata walau di mulai dari langkah yang kecil.

Mulailah rentangkan dan kepakkan sayap kemampuanmu, maka dunia ada digenggamanmu!


REPOSTING DARI TEMAN SAYA rumah curhat
Read More

kisah pengaduk besi dan garam

Seorang pemulung berjalan-jalan ditengah tumpukan sampah.

Di tengah-tengah sampah tersebut ia menemukan sebuah pengaduk besi yang sudah tua dan berkarat.

Sang pemulung kemudian memungut pengaduk besi tersebut kemudian meletakkannya di dalam tasnya.

Kemudian ia pun berjalan lagi dan di dekat tempat ia menemukan pengaduk besi tadi,

ia menemukan sebongkah garam dapur yang sudah sangat kotor.

Garam tersebut kemudian ia pungut dan ia masukkan ke dalam tasnya juga.

Di dalam tas si pemulung tersebut, garam dan pengaduk besi menjadi akrab.

Mereka saling mengenal dan mengasihi satu sama lain, saling berbagi rasa,

dan saling sharing tentang perjalanan mereka selama ini.

Sesampainya di rumah,

si pemulung mengamplas pengaduk besi yang ia temukan tadi

sehingga mengkilap kemudian melumurinya dengan minyak

dan meletakkannya di tempat perkakasnya.

Sedangkan bongkahan garam dapur yang ia temukan

ia bersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel padanya k

emudian mencucinya sebentar dan meletakkannya di tempat bumbu dapur.

Pengaduk besi dan garam dapur sangat bersedih hati.

Mereka yang sudah akrab merasa dipisahkan oleh si pemulung.

Mereka menganggap si pemulung kejam karena telah memisahkan mereka.

Dan mereka pun sepakat akan protes kepada si pemulung.

Akhirnya si pemulung mendengar protes kedua benda tersebut.

Besi berkata “Tuanku, mengapa engkau memisahkan aku dari garam dapur. Ia sahabat sejatiku.”

Garam dapur pun protes serupa : “Tidakkah sangat kejam tuan. Aku menyayangi pengaduk besi sahabatku. Mengapa engkau memisahkan kami ?”

Si pemulung menjawab mereka : “Hei pengaduk besi dan garam dapur.

Tidak tahukah kalian bahwa jika kalian bersatu terlalu lama akan merusakkan satu sama lain.

Tidak tahukah kalian bahwa garam dapur akan larut oleh uap air dan membentuk air garam.

Air garam dapat bereaksi dengan besi dan menimbulkan karat

kemudian karat itu akan mengotori kalian semuanya.

Aku akan menyatukan kalian lagi saat aku memasak,

kemudian aku akan membersihkan kalian lagi.”

Moral cerita:

Kisah garam dapur dan pengaduk besi ini adalah kisah perumpamaan tentang kehidupan kita sehari-hari.

Mungkin kita merasa Tuhan sangat kejam kepada kita karena permohonan kita dalam doa tidak terkabul

atau mungkin kita ditinggalkan oleh seorang yang kita kasihi.

Tetapi ingatlah teman-teman bahwa pikiran kita sangat terbatas.

Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi jika permohonan kita dikabulkan Tuhan.

Hanya Tuhan yang mengetahui hal yang terbaik bagi kita.

sumber :pondokrenungan


REPOSTING DARI TEMAN SAYA rumah curhat
Read More

modal nekat berbekal kanvas

Tahukah Anda ketika demam emas sedang melanda Amerika di tahun 1848,

ada seorang pemuda yang baru berusia 20 tahun berniat mengadu nasib

dengan meninggalkan kota kelahirannya, New York.

Namanya adalah Levi Strauss.

Di New York, Levi hanyalah seorang penjual pakaian.

Ia berangkat ke California hanya berbekalkan beberapa potong tekstil

yang bisa dijualnya selama menempuh perjalanan ke Barat.

Dengan modal nekat yang dimilikinya, sesampainya di California,

Levi menjual semua barang yang dimilikinya kecuali segulung kanvas.

Segulung kanvas? Apa gunanya kanvas?

Siapa yang mau memakai pakaian yang dibuat dari kanvas?

Atau memang hal itu mungkin?

Kanvas yang bagi orang tak berguna itu tak membuat Levi menyerah dan berhenti berpikir.

Di California, Levi memperhatikan bahwa para pekerja tambang emas memiliki celana yang cepat sekali rusak.

Satu-satunya kanvas yang dimilikinya ia gunakan untuk membuat celana kerja

dan menjual celana itu kepada para penambang.

Ternyata celana dari kanvas itu laku keras.

Banyak penambang yang membeli celana kanvas dari Levi.

Levi sebenarnya tidak sepenuhnya suka dengan bahan kanvas.

Ia pun mulai memakai bahan lain yang dipesannya dari Genoa, Italia.

Para pemintal di sana menyebut bahan tersebut dengan nama “genes”.

Levi mengubah nama itu menjadi “jeans”, d

an mulailah ia memproduksi celana jeans pertamanya,

yang diberi merk “Levi’s”.

Hanya dalam waktu singkat celana ini menjadi “pakaian resmi” para penambang dan koboi,

dan akhirnya dapat kita temui sekarang sebagai “pakaian kebangsaan” banyak orang.

Sama seperti Levi, apa yang ada di tangan Anda saat ini?

Jangan pernah menyerah karena Anda tidak akan pernah tahu

akan menghasilkan apakah hasil kerja tangan Anda

sepanjang Anda tidak menyerah dengan keadaan.

Lakukanlah semua kebaikan yang dapat Anda lakukan, dengan segala kemampuan Anda,

dengan semua cara yang Anda bisa, di segala tempat, setiap saat, kepada semua orang, selama Anda bisa.

(Samuel Wesley)

Sumber : jawaban.com

REPOSTING DARI TEMAN SAYA rumah curhat
Read More

kelinci si penakut

Manusia adalah mahluk sosial yang hidup saling bergantung satu sama lain. Walaupun ide hidup saling tolong menolong ini menyenangkan, namun sesungguhnya banyak konflik terjadi disana jika pengharapan kita tidak terpenuhi oleh lingkungan kita.

Setiap manusia mempunyai masalah. Masalah ini akan semakin besar kala kita mulai membandingkajn diri kita dengan hal yang jauh lebih besar.

Kita istimewa dan berhak mendapatkan kesuksesan apapun yang terjadi. Untuk itu mari kita simak ilustrasi cerita di bawah ini, agar kita tetap semangat menghadapi segala kemungkinan yang ada.

Sejak dulu kelinci dikenal sebagai hewan bernyali kecil. Mereka sering ketakutan tanpa sebab jelas. Seringkali mereka menyingkir sesegera mungkin jika keamanannya terancam.

Suatu hari nampaklah sekelompok kelinci tengah berkumpul di tepian sungai. Mereka berkeluh kesah meratapi nyali mereka yang kecil, mengeluh kehidupan mereka yang selalu dibayangi marabahaya. Semakin dalam mereka mengobrol, mereka pun semakin sedih dan ketakutan memikirkan nasib mereka sendiri. Alangkah malangnya terlahir sebagai kelinci. Mau lebih kuat tidak punya tenaga, ingin terbang tidak punya sayap. Setiap hari selalu ketakutan karena terganggu oleh telinga panjang mereka yang tajam pendengarannya. Sehingga matanya yang berwarna merahpun semakin merah saja. Mereka merasa hidup ini tidak ada artinya. Daripada hidup menderita dan terus menerus dihantui ketakutan mereka pun berpikir untuk mati saja.

Keputusan bunuh diri masal pun diambil. Mereka akan bersama – sama bunuh diri dengan melompat dari tebing tinggi yang curam. Namun ketika mereka melewati pinggir sungai, terlihat ada katak yang terkejut melihat kelinci yang berjumlah banyak. Katak ketakutan melihat pemandangan itu. Katak pun melarikan diri dengan melompat ke dalam sungai.

Kelinci sering sekali melihat katak melompat ke dalam air dan mereka tidak mempedulikannya. Tapi pemandangan yang baru dilihatnya sungguh lain. Diantara sejumlah kelinci itu ada seekor kelinci yang sadar. Akhirnya kelinci itu menghimbau rekan kelinci lainnya untuk menghentikan tindakan mereka untuk bunuh diri. Karena mereka bukan satu – satunya jenis mahluk yang bernyali kecil. Masih ada katak yang nyalinya jauh lebih kecil dibanding mereka. Hal ini terbukti dengan larinya katak begitu melihat gerombolan kelinci.

Mendengar perkataan kelinci itu, rekan kelinci lain akhirnya terbuka pikirannya. Tiba – tiba seolah tumbuh tunas keberanian di hati mereka. Dengan riang gembira mereka pun saling membesarkan diri satu sama lain. Kelompok kelinci itu pun kembali pulang dan melupakan niat untuk bunuh diri.

Saat keberuntungan tidak memihak kepada kita, janganlah kita suka meratapi nasib yang dirundung malang seakan kita mahluk paling menderita di bumi ini. Lihatlah sekeliling kita. Masih banyak yang nasibnya kurang beruntung dibanding kita. Jika mereka hidup dalam kekuatan dan mampu menjalani semua itu dengan tegar dan tetap berjuang, lalu kenapa kita tidak. Apapun keadaan hidup kita hari ini, jalani dengan optimis dan aktif. Nasib tidak akan berubah tanpa manusia itu sendiri yang merubahnya. Karena sesungguhnya sukses adalah hak semua orang yang mau berjuang dengan sungguh – sungguh.

Manusia selalu berada dalam keadaan bergairah, senang, sedih dan susah. Namun semua itu tergantung kembali pada saluran mental itu sendiri. Daripada mati sebagai pengecut lebih baik hidup sebagai ksatria. Setiap orang sebenarnya punya kemampuan menghadapi masalah. Dan penyelesaian masalah itu bukanlah dengan mengeluh. Karena mengeluh bisa menyebabkan depresi yang akhirnya membuat kita lupa bahwa kita manusia mempunyai kekuatan mengubah hidup


REPOSTING DARI TEMAN SAYA rumah curhat
Read More

kasih terbesar

Pada suatu siang, sebuah peluru mortir mendarat di sebuah panti asuhan di sebuah perkampungan kecil Vietnam. Seorang petugas panti asuhan dan dua orang anak langsung tewas, beberapa anak lainnya terluka, termasuk seorang gadis kecil yang berusia sekitar 8 tahun.

Orang-orang dari kampung tersebut segera meminta pertolongan medis dari kota terdekat. Akhirnya, seorang dokter Angkatan Laut Amerika dan seorang perawat dari Perancis yang kebetulan berada di kota itu bersedia menolong. Dengan membawa Jeep yang berisi obat-obatan dan perlengkapan medis mereka berangkat menuju panti asuhan tersebut.

Setelah melihat keadaan gadis kecil itu, dokter menyimpulkan bahwa anak tersebut sudah dalam keadaan yang sangat kritis. Tanpa tindakan cepat, anak itu akan segera meninggal kehabisan darah. Transfusi darah adalah jalan terbaik untuk keluar dari masa kritis ini.

Dokter dan perawat tersebut segera mengadakan pengujian singkat kepada orang-orang di panti asuhan – termasuk anak-anak, untuk menemukan golongan darah yang cocok dengan gadis kecil itu. Dari pengujian tersebut ditemukan beberapa orang anak yang memiliki kecocokan darah dengan gadis kecil tersebut.

Sang dokter, yang tidak begitu lancar berberbahasa Vietnam – berusaha keras menerangkan kepada anak-anak tersebut – bahwa gadis kecil itu hanya bisa ditolong dengan menggunakan darah salah satu anak-anak itu. Kemudian, dengan berbagai bahasa isyarat, tim medis menanyakan apakah ada di antara anak-anak itu yang bersedia menyumbangkan darahnya bagi si gadis kecil yang terluka parah.

Permintaan itu ditanggapi dengan diam seribu bahasa. Setelah agak lama, seorang anak mengacungkan tangannya perlahan-lahan, tetapi dalam keraguan ia menurunkan tangannya lagi, walaupun sesaat kemudian ia mengacungkan tangannya lagi.

“Oh, terima kasih,” kata perawat itu terpatah-patah. “Siapa namamu ?”

“Heng,” jawab anak itu.

Heng kemudian dibaringkan ke tandu, lengannya diusap dengan alkohol, dan kemudian sebatang jarum dimasukkan ke dalam pembuluh darahnya. Selama proses ini, Heng terbaring kaku, tidak bergerak sama sekali.

Namun, beberapa saat kemudian ia menangis terisak-isak, dan dengan cepat menutupi wajahnya dengan tangannya yang bebas.

“Apakah engkau kesakitan, Heng ?” tanya dokter itu. Heng menggelengkan kepalanya, tetapi tidak lama kemudian Heng menangis lagi, kali ini lebih keras. Sekali lagi dokter bertanya, apakah jarum yang menusuknya tersebut membuatnya sakit, dan Heng menggelengkan kepalanya lagi.

Tetapi tangisan itu tidak juga berhenti, malah makin memilukan. Mata Heng terpejam rapat, sedangkan tangannya berusaha menutup mulutnya untuk menahan isakan tangis.

Tim medis itu menjadi khawatir, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Untunglah seorang perawat Vietnam segera datang. Melihat anak kecil itu yang tampak tertekan – ia berbicara cepat dalam bahasa Vietnam. Perawat Vietnam itu mendengarkan jawaban anak itu dengan penuh perhatian, dan kemudian perawat itu menjelaskan sesuatu pada Heng dengan nada suara yang menghibur.

Anak itu mulai berhenti menangis – dan menatap lembut mata perawat Vietnam itu beberapa saat. Ketika perawat Vietnam itu mengangguk – tampak sinar kelegaan menyinari wajah Heng.

Sambil melihat ke atas, perawat itu berkata lirih kepada dokter Amerika tersebut, “Ia mengira bahwa ia akan mati. Ia salah paham. Ia mengira anda memintanya untukmemberikan seluruh darahnya agar gadis kecil itu tetap hidup.”

“Tetapi kenapa ia tetap mau melakukannya ?” tanya sang perawat Perancis dengan heran.

Perawat Vietnam itu kembali bertanya kepada Heng.. dan Heng pun menjawab dengan singkat :

“Ia sahabat saya..”

Bisa nggak kamu jadi sahabat yang seperti itu ? atau kamu punya sahabat yang seperti dia ?


REPOSTING DARI TEMAN SAYA rumah curhat
Read More

jeritan hati kuncoro

Kuncoro lahir ditengah keluarga yang sederhana, bapaknya tukang tambal ban, sedangkan ibunya berjualan sayuran di pasar. Beratnya beban hidup membuat Kuncoro menjadi anak yang rajin dan mandiri. Meskipun di sekolah ia termasuk murid berprestasi, tetapi orangtuanya tidak pernah memberikan pujian atas prestasi yang dicapainya.

Selain itu, orangtuanya begitu keras terhadapnya, sehingga Kuncoro tumbuh menjadi sosok yang pendiam. Kuncoro seringkali menerima penolakan dari teman teman sekolahnya, karena rata rata temannya adalah anak anak para pedagang dan pegawai negeri yang berhasil. Ketika masih duduk di bangku TK, suatu hari tiba saatnya untuk bermain ayunan, tetapi Kuncoro kecil hanya menonton saja karena ia tidak diberi kesempatan oleh teman temannya. Ia sering dihina dan direndahkan, bukan saja oleh teman temannya, tetapi juga oleh beberapa guru yang tidak punya belas kasihan

Lengkap sudah penderitaan Kuncoro, ia mengalami banyak luka luka batin. Seiring dengan berjalannya waktu, Kuncoro tumbuh menjadi pribadi yang sangat tertutup, pendendam, iri hati dan cepat tersinggung. Ia sangat hati hati di dalam bergaul karena takut terluka lagi. Jika ia menemukan orang yang mau menerima, menghargai dan mengasihinya , maka ia akan menjadi sahabat yang setia. Tetapi sekali ia dikecewakan, maka ia akan berubah menjadi orang yang menutup diri dan menyimpan dendam serta kebencian didalam hatinya. Sayangnya, tidak ada orang yang benar benar sempurna sehingga Kuncoro selalu saja terluka dan terluka. Ia menjadi orang yang sangat sensitive dan cepat terpancing emosinya, sehingga orang enggan untuk bergaul dengannya.

Jika kita menemukan orang seperti Kuncoro, apa yang akan kita lakukan ? Menjauhi dan menganggapnya sebagai orang jahat ? Bukankah kita selalu berusaha menjauhi orang orang seperti Kuncoro yang cepat tersinggung, pendendam dan pemarah ? Sebenarnya hati Kuncoro sedang ‘menjerit’, perilakunya yang seperti itu sebenarnya bersumber dari luka hati karena penolakan dan kekecewaan yang ia alami. Ia tidak sanggup mengasihi karena ia tidak pernah merasa dikasihi dan diterima


REPOSTING DARI TEMAN SAYA rumah curhat
Read More