Popular Posts

masukan E-mail mu untuk berlannganan:

Delivered by FeedBurner

Selasa, 21 Desember 2010

tiga karung beras

Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah

kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak

laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak

laki-lakinya untuk saling menopang.

Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung

tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut

diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih

menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.

Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah

sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.

Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg

beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak

mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.

Dan kemudian berkata kepada ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah dan

membantu mama bekerja disawah". Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata

: "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu

harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu,

pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah

nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah,

mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang

anak ini dipukul oleh mamanya.

Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan

merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.

Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya

datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.

pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan

mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian para

wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini

isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat

penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali

meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam

kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari

kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata:

"Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin

itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli

beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah

jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa

matang sempurna.

Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya"

.

Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami

semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan

berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam-

macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut

akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas

kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama

kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama.

Bawa pulang saja berasmu itu !".

Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut

dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari

mengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak

bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai,

menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan

membengkak.

Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik

stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok

tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk

membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah

lagi."

Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung

sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.

Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi

kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan

kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang

terkumpul diserahkan kesekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun

mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata:

"Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa

diberikan sumbangan untuk keluarga ibu." Sang ibu buru- buru menolak dan

berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah

anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan

mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu

pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam

kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut

selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus

masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.

Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak

ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak

murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang

diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.

Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah

sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.

Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru

dan berkata : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi."

Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik

keatas mimbar.

Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan

melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang

anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada

anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan

berkata: "Oh Mamaku...... ......... ...

Inti dari Cerita ini adalah:

Pepatah mengatakan: "Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan

sepanjang kenangan" Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi

kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang

mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu

harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya.

Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan

satu kalimat: " Terimakasih Mama.. Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu. ..

selamanya".


REPOSTING DARI TEMAN SAYA rumah curhat
Read More

keajaiban hidup

Pada suatu hari sepasang suami isteri sedang makan bersama di rumahnya. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seorang pengemis. Melihat keadaan pengemis itu, si isteri merasa terharu dan dia bermaksud hendak memberikan sesuatu. Tetapi sebelumnya sebagai seorang wanita yang patuh kepada suaminya, dia meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya, "Suamiku, bolehkah aku memberi makanan kepada pengemis itu ?".

Rupanya suaminya memiliki karakter berbeda dengan wanita itu. Dengan suara lantang dan kasar menjawab, "Tidak usah! usir saja dia, dan tutup kembali pintunya!" Si isteri terpaksa tidak memberikan apa-apa kepada pengemis tadi sehingga dia berlalu dengan kecewa.

Pada suatu hari yang naas, perdagangan lelaki itu jatuh bangkrut. Kekayaannya habis dan ia menderita banyak hutang. Selain itu, karena ketidakcocokan sifat dengan isterinya, rumah tangganya menjadi berantakan sehingga terjadilah perceraian.

Tidak lama sesudah masa indahnya bekas isteri yang pailit itu menikah lagi dengan seorang pedagang dikota dan hidup berbahagia. Pada suatu ketika wanita itu sedang makan dengan suaminya (yang baru), tiba-tiba ia mendengar pintu rumahnya diketuk orang. Setelah pintunya dibuka ternyata tamu tak diundang itu adalah seorang pengemis yang sangat mengharukan hati wanita itu. Maka wanita itu berkata kepada suaminya, "Wahai suamiku, bolehkah aku memberikan sesuatu kepada pengemis ini?". Suaminya menjawab, "Berikan makan pengemis itu!".

Setelah memberi makanan kepada pengemis itu isterinya masuk kedalam rumah sambil menangis. Suaminya dengan perasaan heran bertanya kepadanya, "Mengapa engkau menangis? apakah engkau menangis karena aku menyuruhmu memberikan daging ayam kepada pengemis itu?".

Wanita itu menggeleng halus, lalu berkata dengan nada sedih, "Wahai suamiku, aku sedih dengan perjalanan takdir yang sungguh menakjubkan hatiku. Tahukah engkau siapa pengemis yang ada diluar itu ?............ Dia adalah suamiku yang pertama dulu."

Mendengar keterangan isterinya demikian, sang suami sedikit terkejut, tapi segera ia balik bertanya, "Dan, tahukah engkau siapa aku yang kini menjadi suamimu ini?.................. Aku adalah pengemis yang dulu diusirnya!".

The best and the most beautiful things in this world, cannot be seen..nor touched, but are felt in the bottom of our heart (Hal terbaik dan terindah di dunia ini, tidak dapat dilihata ataupun disentuh, tetapi dirasakan didasar hati kita)


REPOSTING DARI TEMAN SAYA rumah curhat
Read More

tukang kayu

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu, ” katanya, “hadiah dari kami.”

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.

Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi.

Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

Sumber : resensi.net


REPOSTING DARI TEMAN SAYA rumah curhat
Read More

membeli waktu

Membeli Waktu

oleh Rumah Curhat pada 20 Desember 2010 jam 15:19

Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya.

Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”

“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja, Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.

“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi.

Tetapi Imron tak beranjak.

Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”

“Tapi, Ayah…” Kesabaran Rudi habis.

“Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya, Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp 5.000 ,- lebih dari itu pun ayah kasih.”

“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”

“Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.

“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat


REPOSTING DARI TEMAN SAYA rumah curhat
Read More

boneka dan bunga mawar

Aku sedang berjalan-jalan di sebuah toko serba ada, ketika kulihat kasir sedang mengembaliKan sejumlah uang pada seorang anak. Anak itu kira-kira berusia 5 atau 6 tahun. Kasir itu berkata: “Maaf, tetapi uangmu tidak cukup untuk membeli boneka ini.”

Kemudia anak lak-laki itu menoleh ke wanita tua di depannya: “Nek, apakah nenek yakin uangku tidak cukup?”

Wanita tua itu menjawab: “Sayang, kamu tahu uangmu tidak cukup buat membeli bonela ini.”

Kemudian kasir itu minta agar dia menunggu 5 menit, kemudian pergi dengan cepat. Anak tadi masih tetap memegang boneka itu.

Akhirnya akau menghampirinya, dan bertanya, “boneka itu akan diberikan kepada siapa?”

“Ini adalah boneka yang paling diharapkan adikku sebagai hadiah Natal. Dia sangat yakin kalau Santa Claus akan membawakannya.

Ku jelaskan padanya bahwa mungkin anta Claus tidak dapat membawakan boneka seperti itu, dan memintanya agar tidak khawatir.

Tetapi kemudian dia menjawab lirih, “Memang tidak, Santa Clause memang tidak bisa membawakannya ketempat sekarang adikku berada. Aku harus menitipkan boneka ini pada ibuku, sehingga ibu dapat memberikan ke adik nanti kalau dia ke sana.” Ketika mengatakan hal itu, wajahnya nampak sangat sedih.

“Adikku telah pergi menghadap Tuhan. Ayah berkata bahwa ibu sewaktu-waktu juga akan pergi menjumpai Tuhan, jadi kupikir dia bisa membawa serta boneka ini, dan memberikannya ke adikku.”

Jantungku hampir berhenti. Anak itu menengadah menatapku dan berkata: “Aku sudah berpesan melalui ayah agar ibu jangan pergi dulu. Aku harap dia bisa menunggu sampai aku kembali dari sini.”

Kemudian dia menunjukkan foto dirinya sedang tertawa, lalu dia berkata: “Aku juga ingin agar ibu membawa fotoku sehingga dia akan selalu ingat padaku.”

“Aku sangat sayang pada ibu dan berharap agar dia tidak meninggalkanku, tapi ayah berkata bahwa ibu harus pergi menemani adikku.”

Kemudian dengan sedih dia menatap boneka itu. suasana begitu sunyi.

Segera kuambil dompetku dan berkata pada anak itu, “Sebaiknya kita cek lagi, barang kali uangmu cukup untuk membeli boneka itu.”

“Baik” katanya, “Kuharap uangnya cukup.” Tanpa sepengetahuannya kutambahkan sedikit uang di meja kasir, kemudian kami mulai menghitungnya. Ternyata uangnya cukup untuk membayar boneka itu, bahkan masih ada kelebihannya.

Anak itu terdengar bersyukur, “Terimakasih Tuhan, engkau memberiku cukup uang!”

Kemudian dia menatapku dan berkata, “Semalam sebelum tidur aku mohon kepada Tuhan untuk memastikan bahwa aku punya cukup uang untuk membeli boneka, sehingga ibu dapat memberikannya ke adikku. Tuhan mendengar doaku!”

“Aku juga ingin punya cukup uang untuk membeli mawar putih buat ibu, tetapi aku tidak berani minta terlalu banyak pada Tuhan. Tapi ternyata Tuhan memberi uang cukup untuk membeli boneka dan sekuntum mawar.”

“Ibuku sangat menyukai mawar putih.”

Beberapa menit kemudian, wanita tua itu kembali dan aku segera pergi. Aku selesaikan belanjaku dengan suasana hati yang jauh berbeda dengan ketika berangkat tadi. Aku tidak dapat melupakan anak tadi.

Lalu aku teringat pada artikel di sebuah surat kabar lokal dua hari yang lalu, yang memberitakan tentang seorang pengemudi mabuk, yang menabrak sebuah mobil yang dikendarai seorang wanita dan anak perempuannya.

Anak perempuannya langsung meninggal, sedangkan ibunya dalam keadaan sangat kritis. Keluarganya harus segera mengambil keputusan, terus menggunakan atau mencabut saja selang mesin alat bantu kehidupannya, karena wanita muda itu tak akan mampu pulih dari komanya. Apakah itu keluarga anak kecil tadi?

Dua hari setelah perjumpaanku dengan anak kecil itu, ku baca berita di surat kabar, bahwa wanita muda itu telah meninggal.

Aku tak dapat menahan diri untuk membeli seikat mawar putih dan pergi ke rumah duka di mana tubuh wanita muda itu disemayamkan, sehingga dapat dikunjungi handaitaulan dan mendoakannya sebelum dimakamkan.

Dia berbaring di sana, dalam sebuah peti mati, memegang mawar putih yang indah dengan foto seorang anak laki-laki dan boneka di dadanya….

Aku meninggalkan tempat itu, dengan air mata berlinang, merasa bahwa kehidupanku telah berubah, untuk selamanya….. Cinta yang dimiliki anak laki-laki itu pada ibu dan adiknya, tetap tinggal, sampai hari ini, sulit di bayangkan. Dalam waktu kurang dari sedetik, seorang pengemudi mabuk merenggut itu semua darinya.

Dan dalam beberapa menit seseorang yang tidak dikenal bisa memberikan bantuan yang ternyata sangat berarti bagi penerimanya.

Yang bagi kita tidak berharga, bisa sangat berharga bagi orang lain.
Sumber : Sebuah situs di internet


REPOSTING DARI TEMAN SAYA rumah curhat
Read More

hati nurani seorang pencuri

Pada suatu malam, seorang pencuri menyelinap ke sebuah rumah yang di huni oleh seorang nyonya tua, yang saat itu sedang duduk di samping meja. Sungguh beruntung sekali, pikir si pencuri. Tiba-tiba terdengar tangisan nyonya tua itu dengan tersedu-sedu, lalu mengambil sebuah gunting dan mengarahkannya ke leher.

"Ah.....! tidak boleh!" teriak si pencuri. Tanpa sadar ia berlaku sebagai pencuri, dia menerobos ke dalam rumah dan merampas gunting dari tangan nyonya itu.

"Biarkan aku mati...," ronta nyonya tua itu.

"Masalah apa yang terjadi? Bicarakan padaku, Untuk apa memilih jalan pintas?"

Ternyata Nyonya tua itu baru saja ditinggalkan suaminya. Anak dan menantu tidak berbakti, ditambah lagi menderita sakit hingga merasakan hidup ini tidak berarti lagi. Setelah dinasehati panjang lebar, niat untuk bunuh diri tadi perlahan-lahan hilang. Setelah ramai sejenak, para tetangga mengalihkan perhatian pada si pencuri tadi.

"Terima kasih,Tuan ! Tanpa pertolongan anda, tragedi malam ini tentu akan terjadi", cetus mereka.

"Kalian terlalu sungkan. Saya menolong nyonya ini adalah suatu reaksi spontan, sungguh tak pantas di puji",jawab si maling.

"Tuan, apakah marga anda?"

" Saya bermarga Tan."

Setelah berbasa-basi sebentar,tiba2 salah seorang di antara mereka berkata : "Oh ya! Ada satu hal yang perlu kita ketahui". kemudian matanya melirik kepada si maling.

"Tuan Tan, bagaimana engkau bisa sampai di sini dan menyelamatkan nyonya tua ini? Dari mana anda masuk?"

Si maling menjadi pusat perhatian puluhan pasang mata. "Celaka! tak mungkin merahasiakannya lagi. Lebih baik berterus terang saja", pikirnya.

"Saya masuk ke sini dengan memanjat tembok. Semula berniat mencuri,tak tahunya bertemu dengan seorang nyonya tua yang sedang putus asa. Niat mencuri hilang seketika begitu saya masuk ke dalam menyelamatkan si nyonya tua ini".

Kendati para tetangga terbengong mendengarkannya, namun mengingat ia telah menyelamatkan nyawa orang, maka mereka menasehatinya lalu membiarkannya pergi.

Terbukti bahwa seberapa jahatnya manusia,ia tetap memiliki hati nurani untuk menolong orang lain. Kita harus memberikan kesempatan


REPOSTING DARI TEMAN SAYA rumah curhat
Read More

don't hate me mom

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh... Sam, suamiku, memberinya nama Eric.

Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak

terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga.

Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan sayapun melahirkan kembali

seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah... Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.

Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur

4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup.

Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Eric yang sedang tertidur lelap. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang.

Setahun..., 2 tahun..., 5 tahun..., 10 tahun... telah berlalu sejak

kejadian itu. Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria

dewasa. Ia adalah seorang pastor di gereja St. Maria. Usia pernikahan

kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya

yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi

sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.

Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam... Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak... Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali... Ia melihat ke arah saya.

Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya?

Saya lindu cekali pada mommy!"

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya

menahannya,

"Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu.

Siapa namamu anak manis?"

"Nama saya Elic, Tante."

"Eric...? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric???"

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film

yang diputar di kepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa

jahatnya perbuatan saya dulu.

Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati...,

mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya

goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas

kembali di pikiran saya.

Ya Eric, mommy akan menjemputmu Eric...

Sore itu saya memarkir mobil Civic biru saya di samping sebuah gubuk,

dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal

yang telah saya lakukan dulu," tapi aku menceritakannya juga dengan

terisak-isak... Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah

memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian.

Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad

dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric... Eric... Saya

meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu.

Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan

membuka pintu yang terbuat dari bambu itu... Gelap sekali... Tidak

terlihat sesuatu apa pun juga! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya...

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, sayapun keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua.

Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau, "Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"

Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, "Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..."

Saya pun membaca tulisan di kertas itu... "Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."

Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan...

Katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan menyayanginya

sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong

katakan...!!!"

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

"Nyonya, semua sudah terlambat (dengan nada lembut). Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana. Nyonya, dosa anda tidak terampuni!"

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

Sumber : Marry Scheleer


REPOSTING DARI TEMAN SAYA rumah curhat
Read More